I’jaz ‘Adadi (Kemukjizatan Angka 7 dan 19 dalam Al- Qur’an)

I’jaz ‘Adadi (Kemukjizatan Angka 7 dan 19 dalam Al- Qur’an)



I’jaz ‘Adadi merupakan salah satu dari kemukjizat Al-Qur’an, disamping
































tidak konsistennya para peneliti menggunakan metode. Dan seharusnya hasil penelitian Al-Qur’an ini memunculkan kemukjizatan hakiki yang tidak ada faktor kebetulan di dalamnya.
Pembahasan mengenai  i'jaz 'adadi dalam kajian 'Ulum al-Quran adalah pembahasan yang termasuk baru. Oleh itu, banyak timbul pro dan kontra dengan terungkapnya  i’jaz  ‘adadi dalam  Al-Qur’an.  Menanggapi pro  dan kontra i’jaz



‘adadi ini, sebaiknya kita tidak bersikap  apriori ataupun cepat mengambil kesimpulan. Menurut penulis, kedua kalangan Islam tersebut sama-sama mempunyai tujuan yang baik yaitu menjaga Al-Qur’an. Kelompok yang mendukung i’jaz ‘adadi, yaitu ingin membuktikan kemukjizatan Al-Qur’an melalui mukjizat angka-angka yang terkandung di dalamnya. Sementara kalangan yang lain, ingin Al-Qur’an selalu terpelihara dari tangan-tangan orang-orang "dungu"   yang menjelaskan Al-Qur’an jauh dari kaedah-kaedah penafsiran


PEDOMAN  TRANSLITERASI



Berikut adalah daftar aksara Arab dan padanannya dalam aksara latin yang digunakan dalam skripsi ini1:


Huruf Arab
Huruf Latin
Keterangan
ا

tidak dilambagkan


































































































1 Tim Penyusun, Pedoman Akademik Universitas Islam (UIN) Syarif Hidayatullah, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008), h. 492-493.



KATA PENGANTAR




Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt, atas limpahan rahmat


telah memberikan pendidikan akademik kepada penulis.


  1. Ibu Dr. Lilik Ummi Kaltsum, M.A selaku Sekretaris Jurusan  Tafsir Hadis yang telah membantu dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan studi di Fakultas Ushuluddin.



  1. Ibu Dr. Faizah Ali Syibromalisi, M.A, selaku dosen pembimbing dalam skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya atas kerelaan dan keikhlasannya meluangkan waktu membimbing   dan memberikan saran kepada penulis agar dapat

































Adikku Mar’atus Soleha yang imut teruslah belajar kejar cita-citamu. Keponakanku,  Khairul Anwar, Maulana Qamaruddin, Lisa Salsabila,



Miftah  Ramadhan  Al-Ghifari,  Syifa Kamaliatuz  Zahra, M. Fikri. Terima kasih atas motivasi dan dukungannya senyum hangat selalu.
10. Keluarga   Besar KH. Hasbullah   Qamar selaku pimpinan  Pondok Pesantren Banu Al-Qomar,  yang telah memberikan ilmu dan nasihat

































Boim,   Miftah,  Misbak, Pesox’s,   Hajuri, Efis, Wawan,   Uswatun Hasanah, Eva, Leli,  Sayuti, Saiful Fajar. Kalian  adalah keluarga



kecilku, terus semangat jangan pernah padamkan kobaran api KMC di jiwa batur-batur. ”tekun ngederese giat organisasine”.
  1. Kawan-kawan  HMI (Himpunan  Mahasiswa Islam)  Ciputat, Ketum Cabang HMI Ciputat Ramfalak Siregar, Ketum Komfu Arma Hidayat,
































Penulis



Mustar



DAFTAR ISI


ABSTRAK i


4.   Macam-macam dan Fungsi I’jaz al-Qur’an 29


    1. I’jaz ’Adadi dalam al-Qur’an
      1. Penyebutan angka-angka dalam al-Qur’an 35



      1. Pengertian I’jaz Adadi 36
      2. Sejarah awal I’jaz Adadi 37
      3. Aspek-aspek I’jaz Adadi 40
    1. Biografi para peneliti I’jaz Adadi 44


BAB I PENDAHULUAN



A.  Latar Belakang dan Alasan Pemilihan Masalah









1 Didin Saefuddin Buchori, Pedoman Memahami Kandungan Al-Qur’an, (Bogor: Granada Sarana Pustaka, 2005), cet-1, h. 17
2 M. Quraish Shihab, Sejarah dan Ulum Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), h.
113



Kajian terhadap teks dalam  al-Qur’an ini telah melahirkan mukjizat al- Qur’an yang berupa bilangan atau angka dalam susunan ayat atau surat bahkan huruf dalam al-Qur’an.  Mukjizat ini disebut dengan i’jaz ‘adadi.  Dalam kajian ulumul Qur’an klasik, i’jaz ‘adadi belum menjadi topik kajian yang utama ketika



































Huruf muqaththa’ah adalah huruf arab (dibaca sesuai dengan nama/bunyi hurufnya) yang menjadi salah satu pembuka surat-surat dalam Al-Qur’an.
5 Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab Indonesia, (Surabaya: Pustaka
Progressif, 1997) h. 898.
6 Muhammad ibn Makram ibn Manzhur, Lisan al-Arab, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), j.5, h.
369 dan Luwis Ma’luf, al-Munjid fi al-Lughah, (Beirut: Dar al-Masyriq, 2002), cet-39, h. 488
7 Luwis Ma’luf, al-Munjid fi al-Lughah, (Beirut: Dar al-Masyriq, 2002), cet-39, h. 490, lihat juga Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab Indonesia, (Surabaya: Pustaka
Progressif, 1997) h. 903.



Menurut Ibn Manzhur, ﻋﺪد berarti menghitung sesuatu, sementara ‘adad sendiri adalah ukuran (miqdar dan mablagh) dari sesuatu yang dihitung.8 Secara bahasa pengertian ‘adadi adalah berkaitan dengan hitungan. Dengan demikian secara istilah didefenisikan i’jaz ‘adadi adalah kemampuan mukjizat  yang dimiliki Al-

































banyaknya  indikasi angka 7  dalam al-Qur’an dan  hadits-hadits Nabi saw,  juga





281-282
8 Muhammad ibn Makram ibn Manzhur, Lisan al-Arab, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), j.3, h.
9 Darwis Hude, dkk., Cakrawala Ilmu Dalam al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002),



h. 381-393.



pengulangan angka ini dalam tatanan yang sangat teratur di Kitabullah, dan ini mengindikasikan urgensi angka 7.
  1. Allah memilih angka tujuh untuk dijadikan jumlah dari tingkatan langit


Menurut ‘Abd Ad-Da’im Al Kahil, al-Qur’an di desain dengan angka 7 terlihat banyak ayat al-Qur’an yang menyebut angka 7 seperti: Penyebutan angka 7 dalam al-Qur’an pertama kali dam surat al-Baqarah ayat 29 yaitu;







       
 
  
  
    
        
   



   


Artinya: “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit.













































10 Hisham Thalbah, dkk., Ensiklopedia Mukjizat al-Qur’an dan Hadis (Kemukjizatan Angka), terj. Sarif Dede Masyah, dkk., (Jakarta: PT. Sapta Sentosa), cet-3, h. 18



3.   Jumlah ayat yang mendahului ayat pertama yag mememuat tentang angka 7 berjumlah 35 ayat. Angka 35 adalah kelipatan dari angka 7. Begitu pula jumlah ayat yang berada sebelum ayat terakhir yang menyebut angka 7, yaitu  5684, juga merupakan bilangan kelipatan angka 7 untuk kedua














































11 Abah Salma Alif Sampaya, Keseimbangan Matematika Dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Republika, 2007), cet-1, h. 59.





  


Artinya: “Dan di atasnya ada Sembilan belas”


Sebagian besar ahli tafsir menafsirkan 19 sebagai jumlah malaikat penjaga


12 Darwis Hude, dkk., Cakrawala Ilmu Dalam al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002), h. 396.
13 Abah Salma Alif Sampaya, Keseimbangan Matematika Dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Republika, 2007), cet-1, h. 55-59
14 Fahmi Basya,Matematika Islam 2 Al-Qur’an 4- Dimensi, (Jakarta: Republika, 2008), h.
97
15 M. Quraish Shihab, Mukjizat al-Qur’an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan Isyarat dan
Pemberitaan Gaib, (Bandung: Mizan, 1998), h. 139.



  1. Jumlah kata-kata dalam wahyu pertama (lima ayat) adalah 19 kata; habis dibagi dengan 19.
  2. Jarak wahyu  pertama dari surat  terakhir (surat an-nas)  dalam Al-Qur’an adalah 19 surat; habis dibagi dengan 19




























































ه
5
ن
50
ث
500
و
6
س
60
خ
600
ز
7
ع
70
ذ
700



16 Suwaidan, S., Numeric Miracles In the Holy Qur’an, www.islamicity.org
17 Abah Salma Alif Sampaya, Keseimbangan Matematika Dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Republika, 2007), cet-1, h. 157.





ح
8
ف
80
ض
800
ط
9
ص
80
ظ
900

غ
1000
Melihat fenomena angka 7 dan 19 ini bukanlah sebuah kebetulan, logika ilmiah dasar beranggapan bahwa suatu kebetulan tidak mungkin selalu berulang

Qur’an.


    1. Perumusan Masalah



Dengan demikian, Berdasarkan latar belakang masalah di atas, permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini dirumuskan sebagai berikut:
      1. Bagaimana kemukjizatan al-Qur’an dari segi angka 7 dan 19?


      1. Apa metode yang digunakan dalam rumusan angka 7 dan 19 dalam i’jaz


dalam al-Qur’an.18





18Abdurrazaq Naufal, Kemukjizatan Angka-Angka Dalam Al-Qur’an, terj. (Jakarta: PT. Pustaka Antara, 1983)



Abu Zahra An-Najdi, Al-Qur’an dan Rahasia Angka-Angka, dalam buku ini dijelaskan tentang kesesuaian antara jumlah kata dalam al-Qur’an dengan realitas.19 Rosman Lubis, Keajaiban Angkaa 11 Dalam Al-Qur’an,20 dalam buku ini dijelaskan keajaibaan angka 11 dalam al-Qur’an dengan menghitung jumlah









































2001)
21 Hisham Thalbah, et.al, Ensiklopedia Mukjizat al-Qur’an dan Hadis (Kemukjizatan



Angka), terj. Sarif Dede Masyah., et.al, (Jakarta: PT. Sapta Sentosa)
22 Fahmi Basya, al-Qur’an, Alam Semesta dan Matematika, (Jakarta: Pustaka Antara, 1990)



4.  Untuk   memenuhi   tugas akhir   perkuliahan untuk   mencapai gelar kesarjanaan   Strata Satu (S-1) pada Jurusan   Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Sedangkan   kegunaan penelitian ini diharapkan dapat memberikan

































Kemukjizatan Angka-Angka Dalam Al-Qur’an, Abu Zahra al An-Najdi, Al-Qur’an dan Rahasia Angka-Angka Fahmi Basya, al-Qur’an, Alam Semesta dan Matematika dan buku-buku yang berkaian dengan i’jaz ’adadi.



Sedangkan dalam metode penelitian penulis menggunakan metode deskriptif analitis. Metode ini secara singkat, dapat dijelaskan sebagai suatu pendekatan dengan mendeskripsikan atau menguraikan  unsur-unsur yang berkaitan dengan tema yang dimaksud23    dan   selanjutnya   dianalisis untuk



























bagian  kedua menjelaskan  tentang I’jaz  ’Adadi yang  mencakup  Penyebutan





23 Winarno Surachmad, Pengantar Metode Ilmiah Dasar, (Bandung: Tarsito, 1985), h. 139.
24 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah; Skripsi, Tesis Dan Disertasi, (Jakarta: UIN Press, 2007)



angka-angka dalam al-Qur’an, Pengertian, Sejarah awal I’jaz Adadi, Aspek-aspek


I’jaz Adadi dan dalam bab ini disertai juga biografi para peneliti I’jaz ’Adadi.


Bab   ketiga ini  merupakan  inti pembahasan  dari skripsi ini,   yakni menjelaskan Kemukjizatan  angka 7 dan 19 dalam al-Qur’an  yang meliputi



BAB II



I’JAZ AL-QUR’AN DAN I’JAZ ’ADADI


  1. I’jaz al-Qur’an







1 Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997) h. 898.
2 Muhammad ibn Makram ibn Manzhur, Lisan al-Arab, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), j.5, h.
369 dan Luwis Ma’luf, al-Munjid fi al-Lughah, (Beirut: Dar al-Masyriq, 2002), cet-39, h. 488
3  M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaan Ghaib, (Bandung: Mizan, 2003), cet-8, h. 23



Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata mukjizat berarti kejadian ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia.4 Secara istilah Al-Qaththan mendefinisikan i’jaz adalah:
إِﻇْﮭَﺎرُ ﺻِﺪْقِ اﻟﻨﱠﺒِ ِﻲ ﺻَﻠَﻰ اﷲُ ﻋَﻠَﯿْﮫِ وَﺳَﻠﱠﻢَ ﻓِىﺪَﻋْﻮَى اﻟﺮِّﺳَﺎﻟَﺔِ ﺑِﺎﻇﮭَﺎرِ ﻋَﺠْﺰِ اﻟْﻌَﺮَبِ ﻋَﻦْ ﻣُﻌَﺠِﺰَﺗِﮫِ اْﻟﺨَﺎﻟِﺪَةِ وَھِﻲَ






4   Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Departemen  Pendidikan Nasional, 2008), h. 936.
5  Manna Khalil al-Qathathan, Mabahits fi Ulum al-Qur’an, terj. Mudzakit as (Bogor:
Pustaka Litera Antar Nusa, 2009), cet-12, h. 371.
6   Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Departemen  Pendidikan Nasional, 2008), h. 22.



yang berkaitan dengan kejadian yang ajaib tersebut dikenal dengan istilah irhash, karamah, ma’unah, ihanah/istidraj, dan sihr.7
Umumnya menyebut hal-hal di atas sebagai aneh,  ajaib, hebat, dahsyat, tidak biasa, supranatural,  mistik, atau luar biasa. Namun, dalam terminologi









































7 Istilah irhash, karamah, ma’unah, ihanah/istidraj, dan sihr biasanya digunakan untuk menunjuk kejadian luar biasa, namun masing-masing dimiliki oleh golongan manusia yang berbeda. Irhash dimiliki seseorang sebelum diangkat menjadi nabi, karamah dimiliki oleh para wali atau orang suci, ma’unah dimilki oleh manusia pada umumnya, istidraj dimilki oleh orang fasik atau kafir untuk menambah kehinaannya, sedangkan sihr dimilki oleh manusia dengan bantuan setan. Lihat M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaan Ghaib, (Bandung: Mizan, 2003), cet-8, h. 24-25.



tidak mampu melayani tantangan itu. Dengan redaksi yang berbeda, mukjizat di definisikan pula sebagai sesuatu luar biasa yang diperlihatkan Allah melalui para nabi dan Rasulnya, sebagai bukti atas kebenaran pengakuan  kenabian dan kerasulannya.





































diambil  kesimpulan  bahwa i’jaz  al-Qur’an  berarti  kemapuan yang  dimilki al-





8  Muhammad Ali al-Shabuni, al-Tibyan fi Ulum al-Qur’an, (Damaskus: Maktabah al- Ghazali, t.th), h. 6



Qur’an untuk membuktikan kenabian Muhammad saw dan melemahkan penantangnya dalam membuat hal serupa. Sedangkan mukjizat al-Qur’an adalah suatu hal luar biasa yang dimiliki al-Qur’an untuk membuktikan kenabian Muhammad saw dan tidak dapat ditandingi dengan hal serupa.

































seorang yang kelak bakal menjadi nabi, ini pun tidak dinamai mukjizat tetapi irhash.



9 M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaan Ghaib, (Bandung: Mizan, 2003), cet-4, h. 24-25.



Bertitik tolak dari keyakinan umat Islam bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir, maka tidak mungkin lagi terjadi mukjizat sepeninggalan Nabi Muhammad saw, walaupun ini bukan berarti bahwa keluarbiasaan tidak dapat lagi terjadi dewasa ini.

































sehingga mereka tak kuasa kecuali mengakui kekalahan mereka.



3.   Sisi-Sisi Mukjizat al-Qur’an


Al-Qur’an merupakan satu-satunya  kitab samawi yang dengan jelas dan tegas  menyatakan bahwa tidak seorang pun yang  mampu mendatangkan kitab


untuk mendatangkan kitab yang sepadan dengannya, sekalipun mereka




10 Lihat QS. Al-Isra'/17: 88.
11 Lihat QS. Hud/11: 13.
12 Lihat QS. Yunus/10: 38.
13 Lihat QS. Al-Baqarah/2: 23-24



mengerahkan seluruh kekuatan dan telah menjalani pendidikan  dan pelatihan demi hal itu. Artinya, kitab suci itu memiliki ciri-ciri kemukjizatan, yaitu luar biasa, tak bisa ditiru dan dipalsukan, dan diturunkan sebagai bukti atas kebenaran kenabian seseorang.














































14 Jalal al-Din al-Suyuthi, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an. Terj. Tarmana Abdul Qosim (Bandung: Mizan, 2003), cet-3, h. 229-230.



Menurut Muhammad Husayn al-Thabathaba’i, mukjizat al-Qur’an merujuk kebeberapa hal, diantaranya: keluasan pengetahuan yang dikandungnya; kepribadian  Nabi Muhammad saw yang menyampaikan al-Qur’an; kandungan berita gaib di dalamnya; bersihnya al-Qur’an dari pertentangan di dalamnya; dan

































Arab.   Penyair  mendapat kedudukan   yang sangat istimewa   dalam



15 Muhammad Husayn al-Thabathaba’i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, (Beirut: Mu’assasah al-I’lami li al-Mathbu’at, 1991), cet-1, j. 1, h. 63-73.
16 Jalal al-Din al-Suyuthi, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an. Terj. Tarmana Abdul Qosim
(Bandung: Mizan, 2003), cet-3, h. 232.



masyarakat Arab, sebenarnya mereka yang hidup pada masa turunnya al- Qur’an adalah masyarakat yang paling mengetahui tentang keunikan dan keistimewaan al-Qur’an. Tetapi sebagian mereka tidak dapat menerima al- Qur’an karena pesan-pesan  yang dikandungnya merupakan sesuatu yang














































17 M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaan Ghaib, (Bandung: Mizan, 2003), cet-4, h. 112.



Hal ini juga tidak mengurangi keistimewaannya dari segi bahasa, akan tetapi karena mereka tidak memahaminya, maka perlu ditampilkan aspek lain dari keistimewaan al-Qur’an yang mereka pahami seperti isyarat  ilmiah atau pemberitaan gaibnya, maka kalau pada saat ini ada

































menggerakkan manusia untuk menangis dan bersuka-cita.



Hal ini disebabkan oleh huruf dari kata-kata yang dipilih melahirkan keserasian irama dalam  rangkaian kalimat ayat-ayatnya. Seperti misalnya dalam surat An-Nazi’at/79 1-14.19


segi  Bilangan  dalam al-Qur’an),  mengemukakan sekian  banyak contoh tentang keseimbangan tersebut, diantaranya; Keseimbangan antara jumlah



19 M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaan Ghaib, (Bandung: Mizan, 2003), cet-4, h. 11-119.



bilangan kata dengan antonimnya; اﻟﺤﯿﺎت (kehidupan) dan اﻟﻤﻮت (kematian) masing-masing sebanyak 145 kali, اﻟﻨﻔﻊ (manfaat) dan اﻟﻔﺴﺎد (muradar/kerusakan)  masing-masing  sebanyak 50 kali,   اﻟﺤﺮ (panas) dan اﻟﺒﺮد(dingin) masing-masing 4 kali. اﻟﺼﺎﻟﺤﺎت (kebajikan) dengan اﻟﺴﯿﺌﺎت

































sangat akurat. Peneliti ilmiah membuktikan adanya dua macam kandungan sperma (mani laki-laki) yaitu kromosom laki-laki yang dilambangkan dengan huruf   “Y”, dan kromosom perempuan yang dilambangka dengan



huruf “X”. sedangkan ovum hanya semacam, yaitu yang dilambangkan X. apabila yang membuahi ovum adalah sperma yang memiliki kromosom Y, maka anak yang dikandung adalah laki-laki, dan bila X bertemu dengan X, maka   anak yang dikandung adalah perempuan. Jika demikan yang




































Ilmiah, dan Pemberitaan Ghaib, (Bandung: Mizan, 2003), cet-4, h. 167-168.
21 Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, (Surabaya: Dunia Ilmu, 1998) , hal 287
22 Maksudnya: Rumawi Timur yang berpusat di Konstantinopel.
23 Maksudnya: terdekat ke negeri Arab Yaitu Syria dan Palestina sewaktu menjadi jajahan kerajaan Rumawi Timur.
24  Bangsa Rumawi adalah satu bangsa yang beragama Nasrani yang mempunyai kitab suci, sedang bangsa Persia adalah beragama Majusi, menyembah api dan berhala (musyrik). kedua
bangsa itu saling perang memerangi.



isyarat al-Qur’an tersebut tepat karena beberpa tahun kemudian bangsa Romawi dapat mengalahkan bangsa Persia. Dengan kejadian  yang demikian nyatalah kebenaran Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul dan kebenaran al-Quran sebagai firman Allah SWT.

































hal ini diceritakan dalam QS. Yunus/10: 92




25 Lihat Afzalur Rahman, al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan. Terj. M. Arifin, (Jakarta: Bina Aksara, 1980)
26 Lihat Drawis Hude, M. S.i dkk, Cakrawala Ilmu dalam Al-Qur’an , (Jakarta: Pustaka
Firdaus, 2002), cet-1.







 
 
   
  
   



  


Artinya:  “Maka pada  hari ini Kami  selamatkan badanmu27 supaya  kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang  yang datang

































porosnya  yang sudah  ditentukan, sebagaimana  dijelaskan dalam al-




27 Yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir'aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir, Berhias, atau bepergian, atau menerima pinangan.



Qur’an surat Yunus ayat 5, Hal itu diisyaratkan dalam firman Allah SWT:




 
    
  
  
   
 



sebelum ilmu-ilmu  modern menemukan tentang ilmu  astronomi, al- Qur’an terlebih dahulu yang telah menjelaskannya hal tersebut. Dan





h. 79-81.
28 Drawis Hude, dkk, Cakrawala Ilmu dalam Al-Qur’an , (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002)



ini   membuktikan   bahwa al-Qur’an   adalah mukjizat yang   tidak diragukan lagi.
3.   I’jaz Tasyri’i

Baqoroh:   29, QS. Al-Isra’:   44, QS. Al-Mukminun:   86, QS.




29Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.
30 H.M. Drawis Hude.,dkk, Cakrawala Ilmu dalam Al-Qur’an , (Jakarta: Pustaka Firdaus,
2002), h. 395.



Fushshilat: 12, QS.  Ath-Thalaq: 12, QS. Al-Mulk: 3, dan QS.  Nuh: 15.
b.   Fungsi-fungsi I’jaz al-Qur’an


Ditampakkanya  mukjizat terkadang  terjadi demi memenuhi  tuntutan


pantas sebagai firman Allah SWT, atau sebagai kitab suci. Oleh karena itu, setelah membuktikan kebenarannya yang valid dan benar, maka otoritasnya sebagai sumber utama syariat Islam tidak diragukan lagi.



3.   Menguatkan iman


Salah satu fungsi mukjizat al-Qur’an adalah untuk menguatkan keimanan terhadap al-Qur’an. Yang berimplikasi langsung terhadap elemen  keimanan yang lain. Pengetahuan tentang i’jaz  al-Qur’an












































31  Lihat Q.S. al-A’raf: 117. Q.S. al-Anbiya: 68-69, Q.S. al-Isra: 88; Hud 13-14; al- Baqarah: 23-24.





  1. I’jaz ’Adadi dalam al-Qur’an


    1. Penyebutan angka-angka dalam al-Qur’an



Angka/bilangan sangat femiliar ditemukan di dalam al-Qur’an, al-Qur’an




































haqqah/69: 17, sembilan: QS. An-naml/27:48, sepuluh: QS. Al-baqarah/2: 196, sebelas: QS. Yusuf/12:4, dua belas: QS. At-taubah/9:36, sembilan belas: QS. Al-muddatstsit/74: 29-30, dua puluh: QS. Al-anfal/7: 65, tiga puluh: QS. Al-ahqaf/46: 14, empat puluh: QS. Al-baqarah/2: 51, lima puluh: QS. Al-ankabut/29: 14, enam puluh: QS. Al-mujadilah/58:4, tujuh puluh: QS. Al- haqqah/69:32, delapan puluh: QS. An-nur/24:4, sembilan puluh sembilan: QS. Shad/38:23, seratus: QS. Al-baqarah/2: 259, dua ratus: QS. Al-anfal/8:65, tiga ratus: QS. Al-kahf/18: 25, seribu: QS. Al-hajj/22: 47, dua ribu: QS. Al-anfal/8: 66, tiga ribu: QS. Ali imran/3: 124, lima ribu: QS. Ali imran/3: 125, lima puluh ribu: : QS. Al-ma’arij/70: 4, dan seratus ribu: : QS. Al- shaffat/37:147.



bertingkat yaitu: kesatu, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, kedelapan.33 Selain bilangan bilangan asli/pokok (cardinal number) dan bilagan bertingkat (ordinal  number)  al-Qur’an  juga menjelaskan  bilangan-bilangan pecahan,  di
dalam al-Qur’an terdapat 6 macam bilangan pecahan, yaitu: seperdua, sepertiga,




































Drawis Hude., dkk, Cakrawala Ilmu dalam Al-Qur’an , (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002) h. 390-391, yaitu: bilangan seperdua terdapat pada: QS an-nisa/4: 12, sepertiga: QS an- nisa/4: 11, seperempat : QS an-nisa/4: 12, seperlima: QS al-anfal/8:41, seperenam : QS an-nisa/4: 11, dan seperdelapan: QS an-nisa/4: 12.
35 Luwis Ma’luf, al-Munjid fi al-Lughah, (Beirut: Dar al-Masyriq, 2002), cet-39, h. 490. Lihat juga Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab Indonesia, (Surabaya: Pustaka
Progressif, 1997) h. 903.
36 Muhammad ibn Makram ibn Manzhur, Lisan al-Arab, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), j.3, h.
281-282



Dalam   Kamus Bahasa   Indonesia, kata   adad   diartikan   dengan kata bilangan  dan jumlah.37   Jika  ditambahkan  dengan ya’ al-nisbah  maka  menjadi; berkaitan   dengan angka atau   bilangan. Oleh karena   itu jika i’jaz   ’adadi diindonesiakan maka artinya mukjizat yang berkaitan dengan angka atau bilangan

































bertanya  kepada mereka:  ”beritahu aku huruf  al-Qur’an mana yang




37  Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2008), h. 7.
38   Abu  Zahra  al-Najdi,  Al-Qur’an  dan Rahasia  Angka-Angka,  terj.  Agus Effendi,
(Bandung: Pustaka Hidayah, 2001), cet-8, h. 28.



tengah-tengah al-Qur’an?” lantas mereka menghitung dan sepakat bahwa huruf tengah-tengahnya pada surat al-Kahf, yaitu pada firman Allah SWT: walyatalaththaf. Huruf ta’ pada setengah pertama al-Qur’an dan huruf lam pada  setengan  terakhir al-Qur’an.  WAllahu  a’lam bi  al-shawab...inilah

































penjumlahannya dalam konteks mukjizat al-Qur’an, khususnya yang berkaitan dengan bilangan angka (i’jaz ’adadi). Fenomena i’jaz ’adadi sudah melewati sejarah yang panjang dalam kajian ’ulum al-Qur’an, khususnya dalam pemakaian



huruf dan kata dengan jumlah tertentu yang diyakini memiliki rahasia di balik itu semua.39 Misalnya, kaum salaf (generasi klasik) telah memperhatikan huruf-huruf muqaththa’ah pada permulaan sebagain surat dalam al-Qur’an yang dianggap memiliki makna atau hubungan tertantu dengan surat yang didahuluinya.40










































39   Abu  Zahra  al-Najdi.  Al-Qur’an  dan Rahasia  Angka-Angka,  terj.  Agus Effendi, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2001), cet-8, h. 74.
40 Huruf-huruf muqaththa’ah juga disebut dengan al-fawatih al-hija’iyyah terdiri dari 14
huruf: ن ,ق ,ح ,س ,ط ,ع ,ي ,ه ,ك ,ر ,ص ,م ,ل ,ا. seperti: ﻛﮭﯿﻌﺺ اﻟﻤﺺ، اﻟﻢ،
41 Muhammad ibn al-Thayyib al-Baqillani, I’jaz al-Qur’an, al-Sayyid Ahmad Shaqr (ed.), (Kairo: Dar Al-Ma’arif, t.th), h. 44-46.



      1. Keseimbangan angka


Keseimbangan angka dalam al-Qur’an pertama kali ditemukan oleh ’Abd Razzaq Nawfal yaitu memperlihatkan keterkaitan dan keseimbangan berdasarkan pada  persamaan kata, kemiripan kata, perlawanan kata dan

































        • Kesimbangan  jumlah kata dengan  dengan sinonimnya atau  makna yang dikandungnya43. Contoh :



42  M. Quraish Shihab, Mukjizat al-Qur’an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan Isyarat dan Pemberitaan Gaib, (Bandung: Mizan, 1998), h. 140-141.



          • Al-Harts (membajak) dan Al-Zira’ah (bertani), masing-masing 14 kali
          • Al-‘ujub  (membanggakan  diri) dan Al-ghurur  (angkuh)  masing- masing 27 kali












































43 M. Quraish Shihab, Mukjizat al-Qur’an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan Isyarat dan Pemberitaan Gaib, (Bandung: Mizan, 1998), h. 141.
44 M. Quraish Shihab, Mukjizat al-Qur’an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan Isyarat dan
Pemberitaan Gaib, (Bandung: Mizan, 1998), h. 142.



  • Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya.45  Contoh :
- Al-Israf (pemborosan) dengan Al-Sur’ah (ketergesa-gesaan), masing-masing 23 kali














































45 M. Quraish Shihab, Mukjizat al-Qur’an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan Isyarat dan Pemberitaan Gaib, (Bandung: Mizan, 1998), h. 142.



    • kata "sab'u" berkaitan dengan kata "samawat", sebelumnya atau sesudahnya. Kata tersebut dalam AI-Quran disebutkan sebanyak 7 kali. Sesuai dengan jumlah langit berjumlah 7.
    • Kata sujud disebut dalam al-Qur’an sebanyak 34 kali. Jumlah tersebut










46 Abu Zahra al-Najdi. Al-Qur’an dan Rahasia Angka-Angka, terj. Agus Effendi, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2001), cet-8, h. 81-82.



    • Kata Allah (اﷲ) sebanyak 2698 kali; habis dibagi dengan 1947


    • Huruf muqaththaah dalam surat al-Baqarah, yaitu huruf alif, lam dan mim disebut sebanyak 9899 yang habis dibagi dengan angka 19 yaitu 19 x 521.












































47 M. Quraish Shihab, Mukjizat al-Qur’an  Ditinjau dari Aspek Kebahasaan Isyarat dan Pemberitaan Gaib, (Bandung: Mizan, 1998), h. 139.
48 Rosma Lubis, Keajaiban Angka 11 dalam Al-Qur’an, (Jakara: Pustaka Al-Kautsar,
2001), h. 2-3.



Rashad  Khalifa yang  lahir pada tahun  1935 M di Mesir dan  akhirnya pindah ke Amerika.  Rashad Khalifa mendapat sarjana  bergelar bachelor dalam bidang pertanian pada  tahun 1957 dan juga mendapatkan gelar  Doktor (Ph.D.) dalam bidang biokimia pada tahun 1984 dan mengajar di Universitas Kalifornia

































Sebelum itu, ada juga tokoh yang bernama Abd al-Razzaq Nawfal, ia yang lahir  pada tanggal Februari 1917  di Kairo, Mesir.  Ia Adalah seorang  sarjana







pertanian alumnus Fakultas Pertanian Universitas Kairo (1939), dan pernah menjadi Direktur Jendral Perdagangan Luar Negeri  pada Departemen Perdagangan Republik Arab Mesir. Karya-karya tulisnya lebih dari 30 judul yang umumnya berhubungan dengan kajian Islam. Di antara karya tersebut adalah kitab

































keagamaan dan matematikanya ia kembangkan ketika berada di penjara rejim Suharto  sekitar tahun 1977-1982. Selain melahirkan karya-karya tentang al-



50 Lihat: Pengantar Penerjemah ‘Abd al-Razzaq Nawfal, Langit dan Para Penghuninya, terj. A. hasjmy, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979).



Qur’an melalui seminar dan pameran, ia juga menulis beberapa buku, antara lain: One Million Phenomena, Matematika al-Qur’an (2003), dan Matematika Islam (2005)51


BAB III



KAJIAN ANGKA 7 DAN 19 DALAM AL-QUR’AN

A.   Kajian angka 7 menurut ‘Abd Ad-Da’im Al Kahil










1  Hisham Thalbah, et.al,   Ensiklopedia Mukjizat al-Qur’an dan Hadis(Kemukjizatan Angka), terj. Sarif Dede Masyah., et.al, (Jakarta: PT. Sapta Sentosa), cet-3, h. 18-19.







   
         
 
           
   
  
 
   






 
   
 
 



Artinya: “dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah. jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit),









































  
   
  
 






 
  
   
   
 
 
    
 
  






 
   
 
 
      
   
  



Artinya: “dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang  telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: "Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan Kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal


mena'birkan mimpi."
7.   QS. Yusuf/12: 46




 
  
 
 






   
   
      
 
    



Artinya: “(setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf Dia berseru): "Yusuf, Hai orang yang Amat dipercaya, Terangkanlah kepada Kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya."






  
 
  
  
 
 
        
 






  
 
  



Artinya: “langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”


13. QS. Al-Kahfi/18: 22
































Artinya:  Katakanlah:  "Siapakah yang  Empunya langit yang
tujuh dan yang Empunya 'Arsy yang besar?"


16. QS. Luqman/31: 27







  
 
   
   
 
 
  



     


Artinya: “dan  seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena


  


Artinya: “yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan  yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang?”





20. QS. Al-Haaqqah/69: 7




 
   
   
 
     
  









































hadis nabi yang menyebut angka 7 adalah:



Angka  7 ini memiliki  banyak sekali petunjuk  di dalam al-Qur’an dan bahkan  angka 7 juga menampakkan kehadiran  yang nyata dalam sunnah Nabi.



Penyebutan  angka 7 banyak  sekali ditemukan dalam  hadis Nabi saw, diantara hadis nabi yang menyebut angka 7 adalah:
1.   Ketika menerangkan kezaliman dan mengambil tanah orang lain tanpa


dan Muslim).





2 Imam al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari (Bairut: Dar Al-Fikr, tth), j. 3. h. 68  3 Imam al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari (Bairut: Dar al-Fikr, tth), j. 3. h. 228. 4 Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari (Bairut: Dar al-Fikr, tth), j. 3. h. 227



Demikianlah kita melihat 7 adalah angka yang paling istimewa di dalam hadits-hadits Nabi saw. Hadits-hadits di atas hanyalah sebagian saja yang menyebut angka 7, masih banyak sekali hadis-hadis lainnya. Angka  7 adalah angka yang paling banyak disebut di dalam hadits, juga di dalam Al-Qur’an.

































dan berbagai petunjuk melalui kata-kata, melainkan juga terdapat dalam  jumlah kata-kata tersebut dan pengulangan huruf-hurufnya.


5  Hisham Thalbah,et.al. Ensiklopedia Mukjizat al-Qur’an dan Hadis, terj. Syarif Hade Masyah, et.al, (Jakarta: PT. Sapta Sentosa, 2009), j. 10, h. 4.



Harmonisasi dan koherensi terhadap ayat-ayat, kata-kata, maupun huruf di dalam al-Qur’an berhubungan dan berlandaskan pada angka 7. Kesesuaian angka angka 7 ini memiliki kandungan yang besar, yakni bahwa al-Qur’an datang dari Sang Pengatur langit yang tujuh.

































meletakkan data numerik al-Qur’an dan menganalisanya hingga



mendapatkan kesesuaian pada angka tertentu, yaitu angka 7 namun tidak menggunakan sistem numerik di luar al-Qur’an seperti hisab al-jummal.
Misalnnya  pengitungan huruf-huruf  yang terdapat dalam kata  اﷲ


dalam surat al-Fatihah, yakni huruf alif, lam dan ha’ yang berjumlah 49





















Kata اﻟﺮﺣﻦ terulang 155 kali dan kata ﺑﺴﻢ terulang 22 kali dalam al-Qur’an, bilangan yang muncul dari dua kata tersebut adalah  15522, yang merupakan kelipatan dari angka 7, yaitu 1646x7.10
  1. Kata pertama dan terakhir sesuai denga waktu turunnya wahyu






10  Hisham Thalbah,et.al. Ensiklopedia Mukjizat al-Qur’an dan Hadis, terj. Syarif Hade Masyah, et.al, (Jakarta: PT. Sapta Sentosa, 2009), j. 10, h. 81.
11  Hisham Thalbah,et.al. Ensiklopedia Mukjizat al-Qur’an dan Hadis, terj. Syarif Hade
Masyah, et.al, (Jakarta: PT. Sapta Sentosa, 2009), j. 10, h. 27-29.



    • Angka 1 utuk memuat huruf alif


    • Angka 0 untuk kata yang tidak memuat huruf alif










0
0
1
0
1
1
0
1























































12  Hisham Thalbah,et.al. Ensiklopedia Mukjizat al-Qur’an dan Hadis, terj. Syarif Hade Masyah, et.al, (Jakarta: PT. Sapta Sentosa, 2009), j. 10, h. 31.



  1. Jumlah surat yang berada diantara surat al-Baqarah dan surat an- Naba’ adalah berjumlah 77 surat.  Angka 77 merupakan kelipatan dari angka 7 yaitu 11x7=77.
  2. Jumlah  ayat yang  berada diantara  ayat ke-29 surat  al-Baqarah


  1. Jumlah ayat pertama al-Qur’an hingga akhir surat an-Naba’ berjumlah 5712 ayat. Merupakan kelipan dari angka 7, 816x7=571213
  2. Jika kita menghitung jumlah surat dari surat al-Fatihah hingga surat















































































13Hisham Thalbah, et.al,   Ensiklopedia Mukjizat Al-Qur’an dan Hadis(Kemukjizatan Angka), terj. Sarif Dede Masyah., et.al, (Jakarta: PT. Sapta Sentosa), cet-3, h. 18-19.
14 Hisham Thalbah, et.al, Ensiklopedia Mukjizat Al-Qur’an dan Hadis(Kemukjizatan
Angka), terj. Sarif Dede Masyah., et.al, (Jakarta: PT. Sapta Sentosa), cet-3, h. 21-24.






اﻟﻀﺎﻟﯿﻦ
و
ﻋﻠﯿﮭﻢ
اﻟﻤﻐﻀﻮب
ﻏﯿﺮ
ﻋﻠﯿﮭﻢ
4
2
0
2
3
0
2
angka yang muncul dari setiap kata yang memaut huruf alif, lam dan


mim   adalah:   4202302220422020022123340233331.   Bilangan ini

30:





15 Hisham Thalbah, et.al, Ensiklopedia Mukjizat Al-Qur’an dan Hadis(Kemukjizatan Angka), terj. Sarif Dede Masyah., et.al, (Jakarta: PT. Sapta Sentosa), cet-3, h. 164.





  


Artinya:  ”dan di atasnya ada sembilan belas.”


Dalam ayat selanjutnya bilangan 19 menjadi ujian bagi orang kafir, bagi


bertanya, “mengapa 19 ?”. setidaknya Allah SWT mempunyai alasan untuk memilih 19 dan menekankannya dalam Kitab Suci-Nya. Seperti ayat 30 surat muddatstsir diatas  menyebut, “dan di atasnya ada 19” maka ayat ke 31dalam surat ini menyampaikan kepada kita fungsi dari angka 19. Sembilan belas adalah



satu-satunya angka dalam al-Qur’an yang dikomentari fungsinya oleh al-Qur’an.16 Menurut ayat tersebut, fungsi bilangan 19 adalah agar:
  1. Orang yang beriman bertambah imannya.


  1. Orang-orang yang diberi Kitan menjadi yakin.





16    Caner  Taslaman,  Miracle  of The Qur’an:  Keajaiban al-Qur’an  Mengungkap Penemuan-Penemuan Ilmiah Modern, terj. Ary Nilandari, (Bandung: Mizan, 2010), cet-1, h. 376.
17    Caner  Taslaman,  Miracle  of The Qur’an:  Keajaiban al-Qur’an  Mengungkap Penemuan-Penemuan Ilmiah Modern, terj. Ary Nilandari, (Bandung: Mizan, 2010), cet-1, h. 380-
381.
18  Abah Salma Alif Sampaya, Keseimbangan Matematika Dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Republika, 2007), cet-1, h. 59.



memasukkan al-Qur’an ke dalam sistem komputer pada 1969 dan 1970, yang diteruskan dengan menerjemahkan al-Qur’an ke dalam bahasa Inggris pada awal 70-an. Rashad Khalifa mempublikasikan temuan-temuan pertamanya dalam  sebuah buku berjudul “Miracle  Of The Quran:  Significance of the










































20  Darwis Hude, et.al., Cakrawala Ilmu Dalam al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Firdaus,
2002), h. 396.
21  Abah Salma Alif Sampaya, Keseimbangan Matematika Dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Republika, 2007), cet-1, h. 55-59



huruf hija’iyah, berikut daftar hisab al-jumal atau nilai gematrik tiap huruf


hija’iyah:22


Huruf
Angka
Huruf
Angka
Huruf
Angka
ا
1
ي
10
ق
100
ب
2
ك
20
ر
200
















































































22  Rosma Lubis, Keajaiban Angka 11 dalam Al-Qur’an, (Jakara: Pustaka Al-Kautsar, 2001), h. 4.
23  Abah Salma Alif Sampaya, Keseimbangan Matematika Dalam Al-Qur’an, (Jakarta:
Republika, 2007), cet-1, h. 157.



Selain menggunkan hisab al-jumal ada beberapa pendekatan yang digunakan oleh Rashad Khalifa yang berkaitan  dengan penghitungan, metode yang digunakan dalam penghitungannya adalah:
    1. Nilai numerik pada setiap kata dengan hisab al-jummal seperti kata

tidak  menghitungnya.24    Ketiga,  dalam  penghitungan  kata Rashad Khalifa




24   Abu  Zahra  An-Najdiy,  Al-Qur’an  dan Rahasia  Angka-Angka,  terj.  Agus Effendi (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996), cet-8,h.77



kadang menghitung kalimat dengan harf-nya menjadi dua kata, dan kadang pulang menghitungnya menjadi satu kata. Misalnya huruf jarr dan majrur kadang dihitung satu kata dan kadang pula dihitung dua kata. Wa inna, ya ayyuha,  ma lam, ma yaqulun,  wa uhjurhum dihitung  satu kata.  Keempat

































  1. Kata Ar-Rahman (اﻟﺮﺣﻤﻦ) sebanyak 57 kali; habis dibagi dengan 19


  1. Kata Ar-Rahim (اﻟﺮﺣﯿﻢ) sebanyak 114 kali; habis dibagi dengan 1926




25 M. Quraish Shihab, Mukjizat al-Qur’an  Ditinjau dari Aspek Kebahasaan Isyarat dan Pemberitaan Gaib, (Bandung: Mizan, 1998), h. 139.



  1. Jumlah kata-kata dalam wahyu pertama27  (lima ayat) adalah 19 kata; habis dibagi dengan 19.
  2. Jumlah huruf dalam wahyu pertama adalah 76 huruf; habis dibagi dengan 19




































27 QS. Al-alaq/96:1-5
28 QS. Al-alaq/96
29 QS. Al-nashr/110
30 QS. Al-Qalam/68: 1-9
31 QS. Al-Muzzammil/73:1-10
32 QS. Al-Muddatstsir/74: 1-30
33 QS. Al-Fatihah/1



    1. Jumlah huruf qaf dalam QS. Qaf/50, sebanyak 57 kali; habis dibagi dengan 1934
    2. Surat lain yang diawali huruf qaf adalah QS. Asy-syuura/42, berjumlah 57 huruf qaf; habis dibagi dengan 19.35











































34 Suwaidan, S., Numeric Miracles In the Holy Qur’an, www.islamicity.org
35  Abah Salma Alif Sampaya, Keseimbangan Matematika Dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Republika, 2007), cet-1, h. 185.
36  Abah Salma Alif Sampaya, Keseimbangan Matematika Dalam Al-Qur’an, (Jakarta:
Republika, 2007), cet-1, h. 189.



Qur’an  karena menurut  mereka, al-Qur’an  bukanlah kitab angka-angka  seperti ilmu Matematik.
      1. Kritik terhadap fenomena angka 7


Dari segi pengitungan huruf, ‘Abd Ad-Da’im Al Kahil menghitung


Rashad  Khalifa menemukan  fenomena angka 19 dalam  al-Qur’an berawal ketika menafsirkan QS. al-Muddatsir ayat 30, dan berlanjut dengan




37 lihat Jalaluddin al-Suyuti, 1985: 26-27



penemuan kesesuaian, kecocokan dan keterkaiatan angka 19 dalam al- Qur’an. Namaun metode yang digunakan oleh Rashad Khalifa ini bertentangan dengan kebanyak pendapat atau jumhur ulama. Namun banyak juga   yang mendukung dan melakjutkan hasil penemuan-penemuannya,








































2002)


2001)
Drawis Hude., dkk, Cakrawala Ilmu dalam Al-Qur’an , (Jakarta: Pustaka Firdaus,


40 Rosma Lubis, Keajaiban Angka 11 dalam Al-Qur’an, (Jakara: Pustaka Al-Kautsar,
41 Abah Salma Alif Sampaya, Keseimbangan Matematika Dalam Al-Qur’an, (Jakarta:



Republika, 2007)
42    Caner  Taslaman,  Miracle  of The Qur’an:  Keajaiban al-Qur’an  Mengungkap Penemuan-Penemuan Ilmiah Modern, terj. Ary Nilandari, (Bandung: Mizan, 2010)



penting yang telah ia kemukakan adalah tentang kelipatan angka 19 dalam al-Qur’an, tetapi faktanya pernyataan itu tidak tepat. Misalnya saja kata ﺑﺴﻢ dalam al-Qur’an sebanyak 19 kali, yang benar kata ini terdapat 22 kali. Kata اﷲ dalam al-Qur’an sebanyak 2698, yakni 19x142, tetapi yang benar

































menghitung huruf mudha'af sebagai dua huruf;  tetapi menghitungnya menjadi satu huruf. Beliau hanya menghitung satu basmalah untuk seluruh
43  Hisham Thalbah, et.al,   Ensiklopedia Mukjizat al-Qur’an dan Hadis(Kemukjizatan Angka), terj. Sarif Dede Masyah., et.al, (Jakarta: PT. Sapta Sentosa), cet-3, h. 40-45.



al-Qur’an; beliau tidak menghitung basmalah di dalam 112 surat yang lain. Maka berarti beliau mengesampingkan kata "Allah", "Al-Rahman", dan "AI-Rahim". Rashad Khalifa sesekali memasukkan basmalah pada setiap awal  surat pada perhitungannya,  akan tetapi pada lain kali  beliau tidak

































ijtihad  itu tidak  terlepas daripada  kesalahan, mudah-mudahan  itu tetap dinilai sebagai satu kebaikan



45 Abu Zahra An-Najdiy, Al-Qur’an dan Rahasia Angka-Angka, terj. Agus Effendi (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996), cet-8,h.77



D.   Analisa



Dari hasil kajian tentang kemukjizatan angka 7 dan 19 diatas ada beberapa pola yang dilakukan oleh para peneliti. Maka di sini penulis perlu memberikan catatan yang berkaiatan dengan fenomena i’jaz ‘adadi khususnya tentang metode

































penemuanya.  Namun di samping itupula  Rashad Khalifa menggunakan



46 M. Quraish Shihab, ert.al., Sejarah dan Ulum Al-Qur’an, (Jakarta: Bait Al-Qur’an, 1998), h. 99.
48 Hisham Thalbah, et.al, Ensiklopedia Mukjizat al-Qur’an dan Hadis(Kemukjizatan Angka), terj. Sarif Dede Masyah., et.al, (Jakarta: PT. Sapta Sentosa), cet-3, h. 50.



hisab al-jumal atau nilai-nilai numerik setiap huruf untuk memudahkan penghitungan. berikut daftar nilai numerik setiap huruf abjadiyah:
Huruf
Angka
Huruf
Angka
Huruf
Angka
ا
1
ي
10
ق
100
ب
2
ك
20
ر
200








































































Para  ulama juga  berbeda pendapat  tentang wahyu yang  terakhir turun, As-Suyuthi  mengatakan QS. Al-Baqarah/2:  281 sebagai wahyu



49 Jalalluddin al-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an, (Beirut: Maktabah al-‘Ashriyyah, 1979), j.I, h. 72-73.



terakhir turun, karena ayat ini turun pada Sembilan hari menjelang wafatnya nabi muhammad saw.50 Dan QS. At-Taubah yang umumnya disebut sebagai surat yang terakhir turun. Namun menurut Rashad Khalifa wahyu  yang terakhir turun adalah QS. Al-nashr, hal ini bertentangan

































disebut dengan metode sejajar.




50 Jalalluddin al-Suyuthi, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, (Beirut: Maktabah al-‘Ashriyyah, 1979), j.I, h. 72-74.
51 Rashad Khalifa, Qur’an: Visual Presentation of Miracle, (Arizona USA: Islamic
Production, 192), h. 20.21.



5. Pendapat tentang jumlah huruf hija’iyyah juga  menentukan  terhadap huruf abjadiyyah dalam hisab al-jumal. Rashad Khalifa menghitung huruf hija’iyyah berjumlah 28 huruf sama dengan jumlah huruf dalam hisab al- jumal. Namun dalam penghitungan huruf yang dilakukan Rashad Khalifa

































dan tidak mengkajian seluruh surat, ayat maupun kata dalam al-Qur’an.


Meskipun oleh sebagian umat Islam kelompok ini dianggap menyimpang, karena ketidak kosistenannya dalam metode dan juga seolah pemaksaan terhadap



al-Qur’an demi mendukung penemuannya dan seharusnya pula  metode diterapakan terhadap seluruh al-Qur’an sehingga akan melahirkan  i’jaz  ’adadi yang hakiki. Namun bukan berarti hasil dari penemuan-penemuan inipun tidak dianggap begitu saja, karena memang terbukti benar-benar nyata keberadaannya.



BAB IV PENUTUP

A.   Kesimpulan


Dalam  bab ini  penulis menyimpulkan pembahasan-pembahasan  dalam


pula di dalam al-Qur’an seperti pada lafadz basmallah dan jumlah huruf muqaththaah yang habis dibagi dengan angka 19 seperti yang terdapat dalam QS. Qaf/50, QS. Al-Qalam /68, QS. Asy-syuura/42 dan beberapa surat dan ayat dalam



al-Qur’an. Namun dari berbagai penelitian  yang telah dilakukan oleh ‘Abd Ad- Da’im Al  Kahil dan Rashad Khalifa tentang kemukjizatan  al-Qur’an dari segi angka tidak mencakup secara  keseluruhan al-Qur’an hanya sebagain surat dan ayat dalam al-Qur’an saja. Begitupula dengan metode yang digunakan ‘Abd Ad-
























































Ulasan

Catatan popular daripada blog ini

FRAKTAL SEGITIGA SIERPINSKI

I’JAZ AL-QURAN

Tanda Pertama Keajaiban Nombor Dalam Al-Quran